Ricky Indrakari

Blog Pribadi

Terpenting Menangkan Harapan Masyarakat

Minggu, 11 Mei 2008

Ketua DPD PKS Kota BatamBATAM (BP). Partai Keadilan Sejahtera (PKS) saat ini banyak dibincangkan para pengamat politik di pusat hingga di daerah. Ini tidak terlepas dari kemenangan mereka di sejumlah Pilkada di Tanah Air, misalnya Pilkada Jawa Barat dan Sumatera Utara, belum lama ini. Lalu bagaimanakah langkah partai ini di Batam, apakah mereka mampu mengulang sukses menjelang Pemilu 2009 nanti? Simak perbincangan Wartawan Batam Pos Jamil Qasim dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Kota Batam Ricky Indrakari.

Mari masuk, kita ngobrolnya di dalam saja,” ungkap Ricky sambil menuntut wartawan koran ini masuk ke kamar di samping kanan lobi hotel Pusat Informasi Haji (PIH), Batam Centre. Ricky Indrakari, Jumat (9/5) malam itu ditemani seorang rekannya.

Setelah ber­bincang seje­nak, Batam Pos mulai men­gajukan pertanyaan seputar langkah-langkah PKS ke depan, khususnya di Kota Batam. Pria yang sesekali melempar senyum mulai bercerita tentang PKS ke depan.

Menurutnya, di dalam PKS semua kadernya dipersiapkan menjadi pelayan masyarakat sebagaimana tugas seorang supir. Jadi siapapun bisa jadi supir hanya saja tidak boleh menunjuk diri sendiri untuk jadi supir.

Bagaimana tanggapan masyarakat tentang PKS?

Soal pandangan masyarakat tentang PKS sendiri, bapak empat ini melihatnya bahwa di tengah masyarakat sudah bosan hidup dalam sesuatu kondisi yang tidak pasti. Ini salah satu tanda kemenangan Pilkada di se­jumlah daerah, k­a­rena mas­ya­ra­kat menilai di partai dakwah (PKS, red) ini, ada harapan pe­­rubahan. Kembali juga kepada kita bagaimana per­soalan-persoalan kemas­ya­rakatan itu mampu diselesaikan.

PKS dilahirkan untuk menjadi solusi bagi permasalahan bangsa. Dan platform ini sudah menjadi kewajiban sebagaimana yang telah dibangun oleh Hidayat Nur Wahid sejak menjadi Presiden PKS.

Politik yang dipahami PKS adalah membawa kondisi masyarakat dari keadaan yang kurang baik menjadi yang lebih baik lagi melalui proses proses yang juga berkah.

***

Selanjutnya, mengenai persiapan menyongsong Pemilu 2009, lanjut Ricky yang pertama harus dilakukan tentu invetarisir & mengkosolidasikan semua potensi dukungan bagi pemenangan pemilu serta melakukan survei elektabilitas. Dari situ nantinya, PKS tahu di mana saja basis-basis utama dukungan ke PKS untuk kemudian diperkuat. ”Sehingga lebih terukur dalam perencanaan program kedepan dalam membangun basis kemasyarakatan sesuai kultur budaya setempat,” ungkapnya.

Salah satu programnya adalah bakti sosial, gotong royong dan pengembangan usaha-usaha mandiri di kalangan kader, simpatisan & masyarakat. Disamping itu PKS berharap pemerintah juga bisa melakukan program-program yang bersifat best practice untuk membuat masyarakat bangkit. Dalam artian, pemerintah diharapkan bisa lebih fokus dalam memprogram & mengesekusi rancangan pembangunan jangka menengah (RPJM), dimana segenap kader & simpatisan PKS akan siap mendukung program pemerintah yang positip tersebut di masyarakat. ”Kita juga sudah mempersiapkan saran-saran kepada orang yang kita usung itu mulai melakukan best practice dengan belajar dari daerah lain,” ungkapnya.

Batam menuju Bandar Dunia yang Madani, dan Batam sebagai lokomotif perekonomian nasional. Inikan perlu diterjemahkan, lokomotif perekonomian nasional itu seperti apa itu? Baik dari sumber daya manusia dan lapangan pekerjaan yang tersedia. Konsep masyarakat Madani itu juga harus tercukupi kebutuhan fisik minimunnya.

Inikan persoalan dari tahun ke tahun yang selalu dihadapi masyarakat kota Batam, belum lagi persoalan UMK (Upah Minimun Kota) dan sebagainya. Jadi diharapkan ada semacam retrospeksi-lah dari pemerintah bersama-sama dengan unsur politik, baik di dewan maupun partai politik, agar tidak hanya sekedar menang dalam Pemilu 2009, namun yang lebih penting adalah bagaiman memenangkan harapan masyarakat,” harapnya.

Berapa target kursi di pemilu 2009?

Kalau berbicara target, pasti ada target kualitas dan kwantitas. Target kualitas adalah bagaimana mempersiapkan calon legislatif yang sesuai dengan tugas, pokok dan fungsi (tupoksi) agar bisa memberikan peran aspirasi masyarakat secara efektif di Kota Batam ini. Mulai produk perundang-undangannya, bugjet yang pro-rakyatnya dan juga fungsi kontrolnya. Dari sisi kwantitas, tentu menjadi harapan besar bagi kita untuk mengantarkan orang-orang terbaik di masyarakat yang akan duduk di dewan nanti adalah yang benar-benar mampun memperjuangkan aspirasi mas­yarakat.

Target kwantitas di dewan sesuai dengan amanah Musyawarah Kerja Daerah (Muskerda) belum lama ini yakni sebanyak 15 kursi. Angka itu bagi kita cukup untuk mengamankan agenda-agenda politik PKS ke depan.

***

Kemudian, perbincangan pun berlanjut kepada persiapan kader partainya, menyusul pemekaran daerah pemilihan (dapil) di Pemilu 2009. Menurutnya, yang pertama PKS sangat respek dengan pemekaran dapil (daerah pemilihan) ini. ”Karena dengan begitu kader-kader kita di masing-masing DPC (Dewan Pimpinan Cabang) akan bersemangat meningkatkan kegiatan-kegiatannya. Dengan pemekaran dapil ini, dengan sendirinya para kader juga akan menyebar,” ungkapnya.

Dalam enam bulan terakhir ini PKS sudah melakukan komunikasi publik dengan kelompok kesenian, kemudian PKS juga melakukan komunikasi dengan komunitas lainnya.

Sebenarnya sih saya termasuk dalam komunitas olahraga yang hobi sepeda. Misalnya, belum lama ini, ada kegiatan Sepeda Jelajah Bintan. Dan memang komunitas olahraga cukup tumbuh di Batam, dan itu menjadi target kami juga. Jadi kita tidak hanya di komunitas masjid dan industri atau buruh saja se­karang, tapi sudah ekspansi ke semua kemunitas,” jelasnya.

Bagaimana tanggapan Anda, bahwa PKS sebagai partai eksklusif?

Jadi ekslusif itu lebih kepada menyiapkan kader pemimpin, sebab PKS sangat selektif dalam soal kepemimpinan & kepengurusan. Tetapi secara komunikasi publik kami tampil terbuka, dan itu sudah kita lakukan di komunitas-komunitas yang ada di Kota Batam. Bahkan sampai saat kami merasa bagian dari kelompok orang tempatan Melayu. Belum lama ini, kita bertemu dengan beberapa tokoh-tokoh Melayu dalam satu kegiatan, ada dari Ketua LAM, Ketua KKBM, dan mereka juga masih menganggap bahwa PKS merupakan representatif unsur Melayu. Dan mereka mengharapkan ada orang tempatan yang bisa secara tradisi masuk ke gedung dewan melalui PKS. Kita sudah mulai sejak tahun 1999 dengan munculnya Amri Beddu, terus pada Pemilu 2004 ada Said Hasyim.

Kita berharap di Pemilu 2009 tetap ada tradisi seperti itu. Kita inginkan nanti ada keterwakilan unsur masyarakat, itu yang bisa membuat suasana kondusif, tapi bukan sekadar orang tempatan. Namun mereka harus berkualitas, dan itu sudah kita persiapkan. Dalam masa setahun ini kita meng-aggregate semua bakal calon legislatif dari PKS.

Bagaimana teknis 30 persen perempun di Dewan versi Anda?

Yang tertulis di koran sudah jelas ya (Batam Pos, edisi Jumat (9/5) . Di mana PKS bakal memasang tiga caleg perempuan di nomor urut satu di dua atau tiga daerah pemilihan (dapil) di Batam. Sempat sih dikritisi teman-teman, tapi saya jawab jangan hanya bermain diretorika 30 persen. Tapi bagaimana 30 persen itu yang masuk di dewan. Karena permasalahan Batam ini, kebanyakan masyarakat urban yang sedang berkembang. Misalnya, kita lajang yang menikah di Batam belum banyak tahu banyak ba­gaimana cara membina keluarga. Jadi dengan keterwakilan mereka di dewan kita harapkan produk undang-undangnya bisa tahu apa kebutuhan kaumnya. Artinya,.bagaimana membentuk ketahanan keluarga dan sebagainya.

Bagi kami sebagai partai dakwah bisa melahirkan generasi anak-anak saleh dan mandiri. Ini juga satu kewajiban bagi semua umat, bukan hanya terfokus pada karier semata. Memang kami akui, kader PKS itu secara kominiti sedikit lebih besar kaum perempuan dari laki-laki. Kita punya sekitar 3.000 kader di Batam.

Yang paling utama keterwakilan perempuan selain dijamin oleh Undang-undang, perempuan juga perlu diberi porsi untuk menjaga kaumnya dengan produk-produk legislatif yang khas.

PKS melihat masalah ini dengan perempuan kebanyakan di negara-negar berkembang lainnya seperti di Bangladesh juga terdapat ibu-ibu menjelang tahun ajaran baru, yang gamang memikirkan ba­gaimana cara menyekolahkan anak, apalagi rencana pemerintah akan menaikkan harga BBM, bakal memicu harga-harga kebutuhan pokok naik tinggi.

Sikap PKS melihat persoalan sosial di Batam?

(Sambil menarik napas, sesekali mengarah ke kamera fotografer yang siap menjepretnya)

Persoalan sosial ada tiga hal. Saya melihat di era Ahmad Dahlan-Ria sekarang sudah cukup kondusif untuk memulai persoalan tiga hal dimaksud. Pertama, perlu ada komunikasi baik secara horinzontal maupun vertikal untuk memikirkan bagaimana membawa Batam ini ke depan. Karena persoalan Batam ini kan tidak bisa dipikirkan oleh pemerintah saja. Kita di sini berkumpul orang-orang cerdas, sumbang sarannya sangat berguna untuk mewujudkan Batam sebagai Bandar Dunia yang Ma­dani. Di majalah SWA Desember 2007 lalu, dilaporan Human Development Index di Batam terbaik di suluruh Indonesia, kemudian disusul Kota Surabaya. Dengan kondisi demikian, bagaimana pemerintah dan dewan bisa menyerap dan mengembangkan potensi-petensi yang ada di masyarakat. Juga program stimulan yg bersifat bottom-up dari masyarakat Kota Batam. Misalnya, upaya mempertahankan kawasan hijau sebagai kantong-kantong Oksigen dan paru-paru kota sekaligus upaya bersama dalam menghadapi kekurangan serapan air bersih, misalnya kita di PKS telah meresmikan sebuah pemukiman di tengah kota sebagai ‘Kampung Teduh’. Kita berharap ini bisa dijadikan proyek percontohan oleh pemerintah, misalnya untuk membuat kampung teduh yang lain dengan kriteria tersendiri untuk dilombakan dan nantinya bisa mendapat penghargaan kalpataru dari pemerintah pusat.

Kedua adalah administrasi pemerintahan. Saya melihat pemerintah kita ini perlu lebih efesien lah. Sampai tahun anggaran lalu belanja aparat itu masih lebih tinggi dibandingkan belanja untuk publik. Sementara sebagian masyarakat masih hidup dalam keterbatasannya. Diharapkan dengan adanya database kependudukan nanti, program-program pemerintah akan lebih tepat guna, tepat sasaran dan lebih terukur, dimana masyarakat yang kurang beruntung tadi bisa diberikan prioritas untuk pengembangan potensinya. Dan yang ketiga, bagaimana pemerintah mampu mengikat potensi-potensi yang ada di masyarakat untuk mempersembahkan hasil karyanya kelak untuk kesejahteraan masyarakat Kota Batam. ***

Urang Awak yang Dipanggil Ucok

Ricky Indrakari, Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah kelahiran Teluk Kuantan, Riau, 4 Februari 1966. Meski berdarah Minang, ia terlahir dan besar di rantau, mulai dari Pekanbaru, Medan, Jakarta hingga di Batam.

Dalam dirinya yang paling membekas hingga saat ini adalah di lingkungan keluarga selalu dipanggil Ucok padahal dia bukan orang Batak. Semua orang tahu nama Ucok itu panggilan orang di lingkungan keluarga Batak.

Rupanya ia dipanggil Ucok oleh keluarganya ada sejarahnya tersendiri. Dulu, bapaknya sempat ikut wajib militer di masa PRRI. Ia punya komandan bermarga Pardede. Namun anak pertama orang tua waktu itu perempuan. Jadi kamandannya bilang kalau nanti anaknya laki-laki namakan saja Ucok. ”Tapi nama asli di Akte tetap yang sekarang (Ricky Indrakari),” terangnya.

Bapak empat anak mengaku saat kecil kehidupannya hampir sama dengan kehidupan anak-anak seusianya di masa lalu. Namun yang pasti dibandingkan anak-anak sekarang dirinya mengaku termasuk anak yang beruntung. Kenapa? Karena di saat kita kecil hampir seluruh permainan dilakukan atau dibuat sendiri, sekarang anak-anak semuanya serba beli. Dulu kebersamaan anak-anak lebih tinggi, sekarang lebih kepada individualis, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih. ”Inilah yang mungkin membuat kita bisa eksis sampai sekarang,” ungkapnya.

Di saat duduk di bangku sekolah dasar (SD) Santa Maria Pekanbaru ada kebiasan yang tidak bisa ditinggalkan, yakni sepulang sekolah ia bersama teman-temannya mandi di pinggir Sungai Siak. ”Ini kami lakukan dulu hampir tiap hari,” katanya.

Meski ia tinggal di dalam komplek di Pekanbaru, namun ia lebih senang bermain dengan teman-temamnya di luar komplek.

Bahkan untuk menambah biaya pendidikannya di SD, ibunya dulu menjual es. ”Saat SD saya juga pernah menjual es keliling,” ungkapnya. Semasa SMP, ia juga pernah melakoni apa yang dilakukan orang-orang untuk mencari uang tambahan dengan menjadi kuli angkut.

Pendidikan SD hingga SMP ditamatkan di sekolah Katolik Santa Maria di Pekanbaru. Kebetulan pada waktu itu, ibunya juga sempat mengajar TK di sekolah tersebut. ”Kami berenam kakak beradik semuanya sekolah di Santa Maria. Mungkin karena orang tua melihat faktor kualitas dan faktor disiplin, sehingga kami di sekolahkan di tempat itu,” katanya.

Setamat SMP, ia ditantang oleh orang tuanya untuk menuntut ilmu di luar daerah. Waktu itu, dirinya diberi dua pilihan sekolah, yakni sekolah di Bogor atau di Medan. ”Dari tempat itu saya berpikir kalau mau sekolah benaran atau tidak benaran sekalian di Medan, akhirnya saya pilih sekolah di Medan,” jelasnya.

Meski tubuhnya kecil, saat SMA di Medan dia aktif di olahraga sepak bola, karena di sekolah tersebut siswanya diberi kebebasan untuk aktif di olahraga sepak bola. ”Bahkan sampai saat ini SMA 14 tempat saya sekolah dulu terkenal dengan nama SMA sepak bola,” ungkapnya.

Setamat SMA, ia melanjutkan perguruan tinggi di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta. Di saat di bangku kuliah dia mulai aktif di pengajian-pengajian yang merupakan cikal bakal berdirinya Partai Keadilan.

Jadi partai ini lahir dari pertarungan nilai. Tetapi ketika bicara pertarungan nilai Islam bukan berarti tidak mengetahui dan mengakui agama lain. Islam adalah bagian dari komunitas masyarakat,” terangnya.

Karena jauh sebelum reformasi bergulir, sebelum organisasi yang bersifat pergerakan semuanya dihambat oleh pemegang kekuasaan, padahal justru tumbuhnya makin besar. Pada saat reformasi bergulir jaringan itu melakukan musyawarah untuk menentukan terjun langsung ke politik atau menunggu waktu yang tepat, sedang kader yang ada di daerah dipoling. Ternyata mayoritas kader meminta terjun langsung ke politik dengan menggunakan asas Islam. Asas Islam dipakai karena Islam inilah bisa mengatasi kemajemukan suku bangsa yang ada di Indonesia. (jaq)

11/05/2008 - Posted by ricky04 | Batam Pos | | 4 Comments

4 Comments »

  1. Bagus dipanggil Ucok bang. Kadang nama membawa berkah. Tak picaye, coba baca tulisan saye tentang Mak Erot di http://www.iselantang.wordpress.com….he..heee

    Comment by iselantang | 15/07/2008 | Reply

  2. Alhamdulillah keluarga & teman2 lama msh tetap memanggil Ucok. Barangkali RI juga bisa di branding sbg nasionalisme nkRI disamping singkatan Ricky Indrakari. Tentu Sikap & Bukti nyata lebih utama dibandingkan slogan RI-nya.. :-)
    Blog-nya bang Lantang mantap, bolehlah kapan2 minta tunjuk-ajar, agar blog saya tetap ‘Bersih, Peduli & PROFESIONAL’ di komunitas blogger.. :-)

    Comment by ricky04 | 16/07/2008 | Reply

  3. Assalamualaikum Wr. Wb

    Cok, sudah lama ngga ada kabarnya, ee…. taunya sudah jadi pimpinan Partai di Batam, alhamdulillah, semoga apa yang kau cita2kan untuk membangun negeri ini dapat terwujud dan amanah… Amin.

    Gustav
    0816.118.4048

    Comment by Gustav | 14/08/2008 | Reply

  4. Amin ya rabbal al amin. Bagaimana khabar keluarga Gustav? Cak Ni sehat2 saja kan? Salam ya utk seluruh keluarga di Jakarta. Mohon maaf atas segala khilaf & salah selama ini. Semoga dalam bulan yang mulia ini Allah swt melimpahkan keberkahan atas semua amal ibadah kita, amin.

    Comment by ricky04 | 29/08/2008 | Reply


Leave a comment